Rabu, 27 April 2011

ADAPTASI TERNAK PADA LINGKUNGAN

KOLEKSI BAHAN BACAAN
by 
SCOOTER BOB

DIPEROLEH DARI DOSEN M.K ILMU LINGKUNGAN TERNAK





ADAPTASI  TERNAK PADA LINGKUNGANNYA


Terminologi istilah yang terkait dengan adaptasi ternak terhadap lingkungannya.
Adaptasi ; penyesuaian ternak terhadap lingkunganya.
Aklimasi ; respon ternak seketika/jangka pendek terhadap lingkungan barunya.
Aklimatisasi ; perubahan jangka panjang/evolusi suatu species (dari generasi ke generasi) terhadap perubahan lingkunganya.
Habituasi ; sebuah proses yang membuat ternak menjadi familiar/terbiasa dengan lingkungan barunya.
Dalam adaptasi ternak terhadap lingkunganya perlu di perhatikan beberapa aspek, seperti keseimbangan panas antara ternak dengan lingkungannya yaitu mengetahui panas yang di produksi dan panas yang hilang dari tubuh ternak karena pengaruh panas lingkunganya. Aspek lain yang perlu di ketahui adalah  sebagai pengatur/pengendali dari keseimbangan panas tersebut yaitu neurotrasmiter, hormon, target organ dan performan ternak itu sendiri.
Respon ternak pertama kali dilakukan terhadap reaksi perubahan panas/meningkatnya panas lingkungan adalah dengan mengurangi panas yang hilang  (heat loss). Hormon yang terkait dengan heat strees akan meningkat, tetapi sebaliknya hormone yang memacu metabolisme/produksi panas akan menurun. Respon ternak terhadap perubahan panas terhadap lingkungan tentunya berbeda tergantung dari speciesnya, intensitas panasnya, status nutrisi dan kesehatan ternak.



ADAPTASI PADA LINGKUNGAN PANAS

Pada lingkungan panas paling tidak akan melakukan satu cara pengaturan panas dengan tujuan untuk mempertahankan kondisi panas tubuh yang tetap. Cara fisik menghilangkan  panas dalam kondisi lingkungan yang panas adalah memperlebar pembulu darah. Cara ini akan meningkatkan suplai darah kepermukaan sehingga panas yang hilang juga akan meningkat. Cara ini kemudian diikuti menghilangkan panas dengan cara penguapan panas ke udara secara langsung atau cara konduksi (panas hilang ke lingkungannya dengan perantara). Pada hewan yang mempunyai kelenjar keringat, menghilangkan panas dalam bentuk uap air juga merupakan cara yang sangat efektif.
Pada kondisi udara panas regulasi secara kimiawi langsung tergantung pada konsumsi pakan. Untuk itu ternak akan menurunkan produksi panasnya dengan menurunkan tingkat konsumsi nya. Pada batas kritis atas kemampuan ternak untuk menurunkan panasnya tidak lagi seimbang dengan kondisi lingkungan panas yang semakin bertambah, akibatnya panas dari luar justru akan menambah panas yang seharusnya di keluarkan, sehingga tumbuh ternak pun akan meningkat.
Proses penting lainnya pada lingkungan panas adalah reaksi pengurangan panas dengan cara pengurangan konsumsi pakan. Suhu udara yang tinggi merupakan rangsangan pada syarat sebagai reseptor yang berada di kulit kemudian di kirim ke pusat selera makan  di hipotalamus yang selanjutnya akan mengirim pesan tersebut ke system saraf pusat dan akan kembali berupa perintah untuk mengurangi nafsu makan. Dampak lain dari pengurangan tingkat metabolisme adalah pengurangan sintesis di antara nya adalah protein. Kondisi ini akan mengurangi pertumbuhan ternak karena ketersediaan protein sebagai zat membangun jaringan tumbuh dan mengganti jaringan yang rusak akan berkurang .

Sapi

Produksi panas pada sapi mempunyai hubungan linear dengan suhu lingkungan dengan tidak menghambatnya heat loss, total produksi panas yang dihasilkan menjadi tidak tertekan dengan kata lain produksi ternak jadi tidak tertekan atau berkurang.
Temperatur tubuh dan frekuensi nafas meningkat secara linear dengan meningkatnya suhu lingkungan pada kisaran 25-40oC hal ini terjadi pada kondisi acute, setelah waktu lama ternak mulai beradaptasi dengan kondisi panas lingkungannya untuk kembali pada posisi awal. Untuk menghindari tambahan produksi panas ternak akan makan di waktu di malam hari.
Perlu diketahui bahwa kondisi kronis akan mengembalikan tingkat produksi mendekati posisi semula, terutama terjadi pada adaptasi dari suhu lingkungan 18-29oC. Ternak akan sulit beradaptasi pada tingkat pemanasan suhu lingkugan yang lebih tinggi, sehingga adaptasinya untuk kembali ke kondisi awal juga semakin sulit.


Domba dan kambing

Salah satu bentuk aklimatisasi domba terhadap kondisi lingkungan yang panas hampir sama seperti pada sapi setelah kondisi acute terlampaui ternak akan mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang normal seperti awal. Secara hormonal juga dapat bahwa produksi tiroksin akan kembali normal setelah melewati masa acute .
Dengan meningkatnya suhu lingkungan sampai mendekati suhu tubuh ternak seperti juga pada anjing akan melakukan penyelangan panas melalui saluran pernapasan yaitu dengan jalan membuka mulut dan mempercepat frekuensi pernapasan.

Unggas

Pada unggas reaksi pertama sebagai adaptasi terhadap suhu lingkungan adalah meningkatkan suhu tubuh dan diikuti dengan meningkatkan frekuensi panas. Respon seperti ini juga akan berkurang setelah mengikuti periode acute hanya saja kondisi ini juga tergantung pada intensitas panas yaitu periode dan tinggi rendahnya panas lingkungan. Selanjutnya metabolisme tubuh juga berkurang pada unggas yang dalam kondisi sedang beradaptasi .
Dalam jangka panjang adaptasi, cara penguapan melalui saluran pernapasan ditambah dengan cara fasodilatasi, terutama pada bagian tubuh yang tidak berbulu seperti kaki dan kepala. Heat loss dengan cara ini ternyata memberikan konstribusi cukup besar kurang lebih 34% dari total panas yang hilang dari dalam tubuh unggas . Jumlah darah dipompakan keluar jantung meningkat 20-27% dari normal pada adaptasi terhadap suhu panas. Perlakuan adaptasi dari mulai umur muda akan sangat membantu pada tingkat produksi setelah dewasa .










ADAPTASI HEWAN MUDA (NEONATA/BARU LAHIR)

Berbagai problem dihadapi pada hewan yang baru lahir:
  • Makanan
  • Pernapasan / pertukaran O2 dan CO2
  • Sterilitas lingkungan baru
  • Lingkungan yang tidak stabil .

Kondisi baru lahir ini adalah factor dominan yang menyebabkan tingkat kematian pada ternak muda.
Disamping permukaan tubuh masih sangat minim, perbandingan luas tubuh dengan berat badan pada hewan muda/kecil lebih besar dibandingkan pada hewan dewasa/besar. Akibatnya panas yang hilang dari permukaan tubuh menjadi lebih besar pada hewan muda dibandingkan hewan dewasa akibat lebih lanjut hewan muda kehilangan panas yang lebih besar sehingga menjadi mudah kedinginan.

ADAPTASI TERHADAP KETINGGIAN

Hewan ternak menunjukkan performen atau tingkat produktifitas yang berbeda terhadap kondisi alam di sekitarnya, termasuk ketinggian yang akan mempengaruhi lingkungan udara nya. suhu rata-rata pada ketinggian permukaan laut = 25oC. Tekanan udara menjadi setengahnya pada ketinggian 5500 m dari permukaan laut, dan suhu udara berkurang 6,5oC pada setiap kenaikan 1000 m.
Adaptasi yang dilakukan hewan pada ketinggian tertentu terutama menyangkut fungsi resfirasi dan metabolisme nya untuk menyesuaikan dengan kondisi ini ternak akan merubah proses resfirasi. Dengan semakin menipis nya udara atau kadar oksigen berarti akan mengurangi sirkulasi oksigen ke dalam tubuh lewat system resfirasinya.
Akibat dari adaptasi ternak terhadap ketinggian terutama pada unggas dapat menurunkan daya tetas telur. Hal ini di sebabkan supaya oksigen berkurang pada embrio pada telur yang di erami sehingga dapat menyebabkan kematian untuk itu penetasan dengan menggunakan incubator sangat dianjurkan untuk menambahkan oksigen kedalamnya. Sedangkan ada ternak besar/ruminansia, meningkatnya tekanan pada artei paru-paru dapat menyebabkan penyakit brisket yaitu pembesaran dan pembekakan pada daerah brisket yang bisa berakibat kematian. 


LET`S STUDY GUYS

" Bagilah sebanyak-banyaknya ilmu yang telah engkau peroleh, Kelak engkau akan mendapatkan ilmu yang lebih tinggi lagi atas izin ALLAH (Tuhan Semesta Alam)"
(Bobit Kowanus Utomo, 2011)

1 komentar:

  1. makasih untuk artikelnya, sebagai sumber referensi presentasi saya..
    salam peternakan dari UNLAM

    BalasHapus